what time is it?

Senin, 11 Oktober 2010

Yang telah kembali

YANG TELAH KEMBALI

Siang itu cuaca di Jakarta sangat bersahabat, Dinda sedang berjalan kaki menuju tempat penyewaan komik langganannya ketika tiba-tiba HPnya berbunyi tanda SMS masuk. Dinda lalu melihat nama dilayar HPnya, oh dari Nina, pikirnya, lalu ia menekan tombol ‘open’ dan membaca isinya,

From : Nina

Haaai Dinda. Lagi ngapain nih?

Oiya lusa ketemuan yuk Di Loli’s café.

Udah lama banget kita nggak ngumpul

Jam 5 yaaa.. see ya..

Dinda lalu menekan tombol ‘delete’. Huh Nina lagi…Nina lagi.. mau apa sih dia? gerutu Dinda dalam hati. Dia pun berbalik pulang ke rumahnya, moodnya sudah rusak. Sesampainya di rumah Dinda masuk ke kamar dan menyalakan laptopnya, kalau lagi bête hanya internetlah yang bisa bikin mood baiknya kembali lagi. Dinda lalu membuka blognya, hal yang biasa ia lakukan kalau lagi internetan, dia juga membuka Facebook untuk sekedar mengecek comment atau wall, ternyata ada wall dari Nina,

Nina Diandra

Haaaii Dinda, gue kangen nih, ngumpul yuk…

Dinda memutuskan tidak membalas wall dari seseorang yang pernah jadi sahabatnya itu. Tak lama kemudian chat boxnya berbunyi tanda ada pesan masuk, ternyata Nina yang kirim pesan, tanpa membuka pesannya Dinda mengklik tombol ‘offline’. Cukup sudah dia sudah muak berurusan dengan Nina hari ini. Lalu Dinda mematikan laptopnya dan memilih tidur siang. Sebelum benar-benar terlelap Dinda sempat membiarkan pikirannya mengingat kejadian 2 tahun lalu…

Siang itu di halaman kampus yang tidak terlalu ramai, ditempat ia berdiri hanya ada Adam, Nina dan dirinya sendiri, tetapi hanya ia yg berbicara…

“Tapi kenapa Dam?? Kenapa mesti Nina??” tanya Dinda.

Tapi yang ditanya hanya diam mematung, begitu juga dengan Nina, dan tanpa disangka Adam menarik tangan Nina pergi meninggalkan Dinda dengan sejuta pertanyaannya. Sejak kejadian itu Adam, Dinda dan Nina bagai orang asing yang tidak pernah kenal. Tidak ada sms, telpon, email atau apapun yang menandakan mereka pernah ada hubungan. Permintaan maaf dan penjelasan pun tak kunjung ia terima dari mulut mereka yang pernah menjadi sahabat dan pacarnya itu. Yang Dinda tahu sejak kejadian itu mereka jadian. Hati Dinda sakit luar biasa. 2 tahun berlalu sambil Dinda berusaha mengobati sakit hatinya, Dinda beruntung karena tidak satu fakultas dengan Adam atau Nina dan ada sahabat-sahabat yang selalu menemaninya. Tapi rasa sakit dikhianati sahabat masih terus membekas. Dinda tidak menyangka Nina sahabatnya sejak SMA bisa setega itu.

Sekarang 2 tahun berlalu, tiba-tiba Nina muncul seolah-olah tidak ada apa-apa diantara mereka. 2 tahun hidup Dinda mulai tenang tanpa kehadiran mereka, tapi kenapa disaat ia mulai tenang Nina harus muncul lagi? Memikirkan itu membuat Dinda tidak bisa tidur. Dia bingung, haruskah lusa ia datang? Lusa hari sabtu, Dinda jarang ada kegiatan dihari sabtu, ia bisa saja datang. Tapi mengingat orang yang akan ditemuinya membuat Dinda malas. Dinda lalu beranjak dari tempat tidur dan menyalakan kembali laptopnya, membuka Facebook lagi dan ternyata Nina mengirim pesan…

From : Nina Diandra

To: Dinda Ayu

Din, kok lo tiba-tiba offline? Gue tau lo marah banget sama gue, tapi please..

Kasih gue kesempatan, gue tau gue salah. Gue udah khianatin lo, gue pengecut karena nggak pernah kasih penjelasan ke lo…

Lalu Dinda membalas..

From : Dinda Ayu

To : Nina Diandra

Gue emang marah Nin… Marah banget sama lo, sama Adam. Sampe sekarang pun gue masih marah, tapi gue pikir ya udahlah, toh semuanya udah lewat. Makasih udah mau minta maaf walaupun gue harus nunggu 2 tahun.

Tanpa menunggu balasan dari Nina, Dinda mematikan laptopnya lalu mencari mamanya dikamar, Dinda biasa curhat sama mamanya kalau lagi ada masalah.

“Ma… boleh cerita nggak?” tanya Dinda sambil duduk disamping mamanya.

“Boleh sayang.. cerita aja..” jawab mamanya. Lalu Dinda menceritakan semua yang terjadi hari ini.

“Gitu ma.. Aku kesel! Kemaren-kemaren mereka kemana aja?” kata Dinda sambil mengakhiri ceritanya.

Mamanya menghela nafas dan menjawab “Mama ngerti kalo kamu kesel, marah atau nggak terima, tapi mau sampe kapan kamu kayak gini? Semua masalah pasti ada penjelasannya cepat atau lambat. Mungkin mereka baru siap membuka diri buat kamu ya sekarang-sekarang ini, setelah 2 tahun. Sekarang semua kembali ke kamu, kamu siap nggak membuka diri lagi buat mereka? Mama harap kamu bijak Din... Semua masalah pasti ada penjelasannya.”

“Gitu ya ma? Oke deh ma, makasih ya…” kata Dinda sambil mencium pipi mamanya dan kembali ke kamarnya. Sampai di kamar, Dinda mengetik sms untuk Nina…

To : Nina

Haaaiii Nina… Lusa jadi kan? Jam 5 di Loli’s café ya..

See ya there. :)

Lalu Nina mengklik tombol ‘send’ sambil tersenyum, seiring dengan terkirimnya sms untuk Nina, beban yang selama ini menghimpit dihatinya menguap entah kemana.

***

2 komentar:

  1. Nis, itu di paragraf terakhir yang ngirim sms Dinda apa Nina? Hohoho... gw kirain cerita beneran temen2 SD kita, taunya fiksi... atau pengalaman pribadi nih? *peace*

    BalasHapus
  2. pengalaman pribadi di khianatin ik.. he..
    tp gw pke nm tmn2 sd qt

    BalasHapus